Dec 3, 2008

untitled post first

Tadi pagi aku bangun dan menyadari kekosongan yang terjadi di rumah. Tak ada keceriaan yang biasanya timbul di wajah Bik Sumi saat menyiapkan sarapan. Ayah pun begitu. Ia nampak menjaga jarak denganku. Padahal aku anak kesayangannya. Apalagi Bang Umar yang sejak semalam tidak menampakkan batang hidungnya. Rasanya ingin menangis. Ditambah lagi kalau aku mengingat kejadian kemarin. Luka yang menyayat itu sepertinya tak akan sembuh


************


"Ri nanti kamu pulang sekolah mama jemput, ya."

suara lembut nan tegas itu mengagetkanku dari belakang saat aku sedang bercermin. Sesosok wanita enerjik yang berbaju kuning neon dipadukan celana training hitam yang sedikit nge-press dan sepatu putih. Kacamata hitam bertengger di wajahnya. Sekilas aku ingin tertawa. Mungkin orang-orang yang melihatnya pun akan melakukan hal yang ingin kulakukan. Malahan menjulukinya "tante nyentrik". Kenapa tidak? Namun mengingat "tante nyentrik" itu adalah mamaku, aku mengurungkan niat untuk menertawakannya.

"Gak ah, Ma. Nanti aku ada les tambahan," jawabku enggan. Sedikit berdalih karena sebenarnya hari ini aku ada janji nonton dengan kakak kelas ganteng yang sudah lama kutaksir.

"Lah, bukannya hari ini kamu kosong?"

"Justru karena kosong, Ma. Namanya juga tambahan."

Aku menutup kotak bedakku lalu berbalik dan menemukan wajah polos mama yang sedang mengangguk pelan tanda setuju. Terperdaya oleh kata-kataku. Mudah sekaliya ngebohongin mama. Tau gini daridulu izin apa apa sama mama aja deh. Aku pun mengajaknya ke ruang makan untuk sarapan.

Status mama sebagai mama tiriku membuatku menganggapnya hanya sebatas teman saja. Mama tidak keberatan kok dengan perlakuanku padanya. Malahan dia senang. Usianya memang tidak jauh denganku. Itu yang membuatku menganggapnya lebih sebagai teman daripada sebagai ibu. Tak ada yang bisa menggantikan posisi ibu. Tidak ibu negara sekalipun. Apalagi hanya seorang pelacur jalanan hina yang ditemukan ayah terluntang lantung di pinggir jalan kereta api yang kumuh dan kotor. Menantikan belas kasihan setiap lelaki hidung belang yang datang.

Katakanlah ayahku brengsek atau apalah itu. Aku tidak peduli dan tidak mau peduli. Memang siapa dia? Dia memang ayahkutapi tak sedikitpun rasa hormatku kuberikan padanya. Dia sudah merenggut kebahagiaanku dengan membunuh ibu secara perlahan. Dan kini ia menikahi si wanita jalang yang tiada terhormat itu. Sungguh menjijikan.


************



to be continued...

8 comments:

Winniiee said...

wah wid, ngarang nih? bahasa indonesianya bagus dan bnar =.=

Doubleyouaidiei said...

wihihi thankies winnie. lg coba coba nih. msh ada lanjutannya loooh hihi -_-

Doubleyouaidiei said...
This comment has been removed by the author.
Savina said...

cie si alay bisa bikin cerita hhhhhh tapi bagus kok bagus

Prima Diah Mustika said...

bikin penasaran deh wid ceritanya, coba deh lo post di www.kemudian.com :D

Doubleyouaidiei said...

@ Savina : iyadongs alay kereatip
@ Prima : oke prim :D

arum said...

tai dikirain apa gitu hahaha. dasar widud. emangnya mamanya wida itu ibu tiri lah gue jadi heran

Doubleyouaidiei said...

@ arum : haha makanya don't jump to conclusion dongs