Jan 4, 2009

Pemimpin Gemblung

Spanduk-spanduk bertebaran. Bendera berwarna-warni berkibar menghiasi setiap jalanan kota. Iklan yang beredar di setiap stasiun televisi pun marak. Ini menandakan sudah saatnya kita untuk memilih. Well, gue emang belum cukup umur untuk memilih (dalam hal ini PEMILU) tapi ya seenggaknya hal ini juga melibatkan seluaruh keluarga gue yang udah cukup umur dan seluruh negri dongya. Jadinya ya mau ngga mau gue juga harus care sama masalah ini.

Selama ini apasih yang dicari dari Pemilu? Dari pertama kali diadakan Pemilu tahun 1955 sampe yang akan dilaksanakan di tahun ini cuma mencari satu hal. Pemimpin yang bisa diandalkan. Apa itu pemimpin? Menurut gue pribadi, pemimpin adalah seseorang yang handal dan ahli dalam memimpin bawahannya. Status yang sangat bertanggung jawab. Tapi mau bagaimanapun caranya, kalau pemimpin cuma sebagai status aja, tentu ngga bikin kita ngerasa enak. Yang ada justru rasa was-was dan gelisah memikirkan bagaimana melanjutkan kehidupan dengan pemimpin yang salah. Secara nggak langsung juga hidup kita bergantung sama pemimpin itu. Bagaimana si pemimpin akan membimbing rakyatnya, menyejahterakan rakyatnya, untuk melanjutkan kehidupan mereka.


Enough ya gue ngomongnya diplomatis amatya haha tapi dalam masalah ini entah kenapa gue jadi ngerasa concern banget. Soalnya selama ini kalau ada orang yang ngomongin tentang si pejabat ini atau pejabat anu, pasti yang diomongin yang negatif. Jarang banget ada yang ngomongin positifnya. Apa karena selama ini yang keliatan cuma negatifnya aja? Atau mungkin emang ngga punya sisi positif? Mungkin.


Pemimpin yang baik menurut gue adalah yang nggak semena-mena. Semena-mena dalam arti kata sesungguhnya. Tukang merintah, tukang marah, tukang gertak, 'suka-suka gue'. Dalam hal ini yang paling menderita udah pasti kacung-kacungnya. Yang gue yakin mereka pasti ngomongin keburukan si pemimpin di belakang saking eneknya diperintah, dimarahin, dan selalu dijadiin kambing item sama si pemimpin.


Gue pernah nemuin seseorang yang menurut gue pantes buat dimasukin ke kriteria 'Si Semena-mena'.


Ini terjadi beberapa waktu yang lalu, nggak lama dari hari ini. Waktu itu gue lagi ke Monas sama keluarga gue. Mau ngabisin waktu liburan. Sebuah perjalanan yang bener-bener engga disangka soalnya kita berubah tujuan. Sampai disana, kita foto-foto bentar, terus lanjut ngiterin Monas, disuruh nyokap gue yang udah ngebet pengen Thawaf di Ka'bah katanya (amin). Pas lagi 'Thawaf', terdengar panggilan sayang dari Dia, yang menunjukkan waktunya solat Magrib. Oke kita stop Thawafnya dan langsung cao cari Musholla terdekat. Sejujurnya, gue aja nggak tau di mana mushollanya Monas. Sempet terpikirkan buat ke Istiqlal aja tapi berhubung jauh dan waktunya nanti habis, jadi kita sepakat untuk cari dulu.

Bokap gue inisiatif nanya dan katanya orang yang ada disana, mushollanya ada di deket air mancur. Sip, gue sekeluarga langsung menuju air mancur.

Sampai disana, kok ngga ketemu ya, mushollanya? Setelah tanya-tanya lagi akhirnya ketemu juga Toilet sekaligus musholla. Nggak efisien sih sebenernya ada Musholla darurat inisiatif dari para pekerja yang ada disana yang letaknya disamping toilet, persis. Dan musholla darurat ini terletak diluar, di alam terbuka tempat banyak binatang buas, dan hanya memiliki dua sekat. Satu sekat pemisah dengan toilet, satu lagi pemisah dengan toilet yang satu lagi. Waduh prihatin banget ngeliatnya masa tempat yang notabene-nya lambang DKI Jakarta ini nggak memiliki fasilitas memadai sih? Nggak imbang aja sama statusnya. Atau mungkin emang ada tempat yang belum terjamah oleh kita, mungkin sebenernya ada musholla yang nggak darurat, musholla yang beneran, tapi terletak di ujung lain Monas jadi kita nggak tau dan orang-orang yang kita tanyain juga mungkin gamau kita capek jalan ke ujung satunya makanya disediain musholla darurat. Mungkin.

Berhubung gue lagi nggak solat, yoweslah gue tungguin nyokap gue di depan toilet perempuan. FYI, toiletnya terbagi menjadi dua, toilet laki-laki dan perempuan, yang letaknya saling membelakangi. Sambil nungguin nyokap, bokap dan adek gue solat, gue sambil sms-an sama si pacar ngasitau kalo gue lagi ada di Monas. Dia sempet kaget gitu. Soalnya aneh aja gue kaya bukan orang Jakarta. Disaat keluarga lain liburan keluar kota, gue malah liburan ke satu tempat yang dari lahir udah gue tinggalin. Monas. Make sense, kok, sebenernya. Gue kan orang Jakarta yang selalu ngerasa bosen liburan di kota sendiri. Akhirnya liburan gue selama ini gue habiskan di luar kota dan gue nggak menghiraukan tempat wisata yang ada di Jakarta. Jadinya memang terdengar agak aneh kalo ada orang Jakarta asli dari lahir sampe gede disana belum pernah ke Monas.


Bukan. Bukan gue.


Adek gue. Ya itu adalah pertama kalinya dia ke Monas.


Pathetic, eh? Yasudahlah gausah dipikirin, sekarang back to the topic. Gue masih nungguin bokap, nyokap, dan adek gue sambil sms-an dan jagain tas nyokap, terus tiba-tiba ada dua orang lelaki paruh baya kira-kira 30 tahunan masuk ke toilet perempuan. Gue masih santai aja ngeliatnya mungkin mereka nggaktau kalo toiletnya dibagi dua soalnya letaknya kan bertolak belakang gitu. Nah, pas si bapak-bapak itu ada di dalem, bokap, nyokap, sama adek gue selesai solat. Terus mereka datengin gue. Nyokap gue nanya, "kamu gak mau pipis kak? Nanti kebelet, loh"

Mulanya males juga sih pipis segala tapi ya daripada entar kebelet juga kan ngga enak yaudah akhirnya gue masuk ke kamar mandi dan menemukan fakta bahwa kamarmandinya penuh semua. Cuman sisa satu bilik yang khusus buat mandi. Itupun airnya mati. Huh. Sambil nungguin, gue ngeliat salah satu bapak-bapak yang tadi lagi ngepel lantai kamar mandi. Oh, ternyata cleaning service, pikir gue. Dan gue juga ngeliat bapak-bapak yang satu lagi, berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka, letaknya di ujung. Wah, ada kamar mandi kosong. Langsung aja gue kesana, minta izin sama bapak-bapaknya ,"Pak, permisi, saya boleh disini?"

"Nggak, kamu diujung sana aja"

"Oh iya"


Tapi kan diujung sana airnya mati, yaudah gue berdiri lagi di depan toilet lainnya. Cuma ada sisa dua toilet yang berfungsi dan didalemnya itu ada orang yang lagi mandi. Aduh malesin banget dong masa gue nungguin lama banget. Kasian orangtua gue udah nungguin gue doang diluar. Satu kata kunci. Sabar.


Tiba-tiba ada bapak-bapak lagi yang penampilannya kayak preman pasar Induk, masuk kedalam toilet. Dia nanya sama bapak-bapak yang nungguin di depan pintu, "udah siap?"

"siap"


Lalu ada seorang lagi bapak-bapak, kali ini lebih bersih dan sehat (gemuk maksudnya), masuk kedalam toilet dengan kaki berjinjit seolah jijik dengan keadaan toilet saat itu yang nggak kotor. Lalu bapak yang didepan pintu mempersilakan dia masuk kedalam bilik yang udah ditempatin dan dibersihin dengan kain pel. Sebelum si bapak sehat itu masuk kedalam, dia mengecek kedalam bilik. Seperti inspektur kebersihan, dia berkata dengan penuh lagak ,"ini apaan? masih kotor"

Dengan sigap bapak yang berada di pintu menyiramkan air ke lantai dan menghilangkan kotorannya dengan sekejap alakazam. Lalu bapak sehat tersenyum puas. Setelah itu, bapak preman dan bapak-yang-gue-kira-cleaning service itu masuk juga ke dalam kamar mandi dengan membawa seember besar air yang berisi air panas dan ditempatkan di depan pintu kamar mandi bapak sehat.

Sebelum masuk ke dalam bilik, bapak sehat menyuruh bapak yang di pinggir pintu untuk membukakan bajunya.


Yap.


"bukain baju gue doooong"



Enggak gitu juga sih ngomongnya, tapi lagi-lagi dengan sigap bapak yang ada di pintu membukakan bajunya. Gue bisa ngambil kesimpulan kalo si bapak sehat ini pasti bosnya dan sisanya adalah kacungnya. Setelah bajunya dibukain, ember air hangatnya di masukin, pintu ditutup, si bos mandi dengan tenang sementara kacung-kacungnya diluar cuman bisa manyun sambil ngeledekin si bos. Gue cuman ngikik aja ngeliatnya.




Tiba-tiba....




"rokok.. saya butuh rokok..."




Hah? Rokok? Di kamar mandi? Sambil mandi?




Yah, walaupun aneh tetep aja diturutin. Gue udah ngedumel aja gasuka ngeliatnya. Udah ngambil hak orang secara paksa, secara itu toilet cewek dan gue CEWEK dan dia COWOK! Udah gitu akhirnya gue gajadi pipis dan keluar lagi sambil marah-marah cerita ke nyokap gue tentang apa yang baru aja gue liat.


Nyokap : "Oh iya pantesan itu dia bawa ember gede ternyata isinya air panas toh"
Gue : "Iya, Ma. Nyebelin banget nggak sih? Sok bersih deh. Kalo mau bersih ya di rumah aja mandinya jangan di toilet umum"
Nyokap : "Dasar orang penting"
Gue : "Sok penting, Ma"



Haha rasa sebel gue udah memuncak gitu ckck.



Kesimpulannya adalah, pemimpin yang seperti itu nggak dibutuhin sama rakyatnya. Pemimpin yang kerjanya cuma merintah dan nggak peduli sama orang disekitarnya. Pemimpin yang kaya gitu pantesnya di sawah sana, mimpin gerombolan kerbau dungu yang dicocok hidungnya. Hahaha.


Buat para pemilih, gunakan hak kalian ya! Teliti sebelum memilih. Nggak mau kan, Indonesia dipimpin sama seseorang yang nggak bisa ngelepas bajunya sendiri? (sok bijak)

No comments: