Oct 12, 2010

Mimpi.

Mid semester test has just finished and the result was kinda disappointing. Despite the fact that I failed on all Science subjects, I got 80 on English. Which was truly disappointing cause I knew I was able for getting 90 or even higher; I got 59 for Phy which was also surprising me cause I'd learned for more than 3 days -since I had known that my Math score would be such a catastrophe so I worked hard on Phy- and I still failed. And my Projective test was also failed. Some lines was missed to erase and I got it dirty. FML. Or, to be clearer, FUCK MID SEMESTER TEST.


***********


Oh. Halo. Selamat pagi/ siang/ malam/ kapanpun Anda membaca post kali ini.

Saya mau bercerita sedikit. Tentang Mid Semester yang bisa dibilang gagal (which has been told completely to you all), dan tentang mimpi.

Setelah sibuk mencari umpatan yang pas untuk menggambarkan hasil mid semester kemarin, akhirnya saya mencari hal yang kira-kira bagus untuk ditampung bloggy *sok imut*. Dan kemudian, di tengah-tengah peng-update-an status twitter hari ini, saya mendapat ide untuk menuliskan tentang mimpi. Feeling familiar? Sebelumnya saya pernah nulis tentang cita-cita. Mungkin kali ini agak mirip. Namun tetap berbeda.


Mimpi. Sebenernya mimpi itu apasih? Menurut Wikipedia, Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep). Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia, mimpi adalah sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur. Sama ya? Tapi menurut saya, mimpi itu gak cuma bisa dialami saat tidur aja. Sebenernya, mimpi itu lebih baik kalo dialami dalam keadaan terjaga. Karena dalam keadaan terjaga, kita bisa mengatur apa yang kita ingin mimpikan, dan kemana arah mimpi itu berikutnya.

Namun, hal yang membuat bermimpi sambil terjaga menjadi buruk adalah: Keinginan untuk membuat mimpi itu nyata bertabrakan dengan fakta yang menghadang kita untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Sedih, rasanya.


Saya sedang mengalami hal ini. Saat mimpi saya melambung tinggi, kenyataan mendorong saya dan kemudian menjatuhkan saya sehingga saya harus membersihkan luka-luka dan melupakan mimpi itu sejenak. Sejenak kemudian saya melupakannya dan akhirnya merancang mimpi baru yang selanjutnya berakhir sama dengan mimpi yang sebelumnya.



Entah harus berkata apa.




The Dreamer,
Doxy

No comments: