Jan 9, 2013

POST PERTAMA DI DUA RIBU TIGA BELAS

Jangan jijik hanya dengan membaca judul. Kalau orang-orang sering berkoar-koar masalah Don't judge a book by its cover, maka hal ini juga pantas mendapatkan perlakuan yang sama. Mainstream atau enggak, itu nggak mempengaruhi kualitas. Jadi, please, jangan jijik baca judulunya.

OK.

Seperti judulnya, ini memang post pertama di dua ribu tiga belas. Post terakhir, atau dua post terakhir di dua ribu dua belas kemarin di isi dengan kemana-aja-ya-gue whining dan dalam hati pun sebenernya ingin nulis lebih banyak lagi. Tapi ternyata nggak kesampaian. Post terakhir pun hanya sebuah quick update nggak penting yang sebenernya terlalu menggeneralisasikan keadaan. I mean, if people were me, they would also feel it, too. But then again, waktu itu nggak selamanya bisa diajak kompromi. Jadi, inilah hasilnya: post pertama di dua ribu tiga belas dengan segala cerita di dua ribu dua belas.

Yang namanya kaleidoskop biasanya adanya di akhir tahun. But, no, this ain't no kaleidoscope.

So, last post gue bercerita tentang persiapan gue dan geng (YOI) dalam menghadapi UI ART WAR (or, previously UI Festival) bidang teater. Gue juga udah menjelaskan kalau gue bukan anak teater. Gue juga udah menjelaskan kalau gue bukan aktor. Jadi di kompetisi ini, gue berperan sebagai artistic director. Yep. Penata artistik panggung, and I have to tell you it was not an easy job to do. Selain karena asisten sutradara gue banyak mau (Vi, if you see this, just admit it.), gue sendiri mendapati kesulitan dalam perwujudan properti dan tata letak etc etc. But then again, everything got covered karena bantuan banyak sekali pihak. Anyways, meskipun udah lewat, here's the poster for our performance, MALUM:


So, basically, Malum adalah cerita tentang kepincangan hukum yang ada di Indonesia (Yes, that's why it is symbolized by an unbalanced scale). Bermula dari ditangkapnya Yanto, seorang buruh perkebunan apel, karena dituduh mencuri tiga kilogram apel. Ia terancam hukuman lima tahun penjara. Yang dituduhkan kepadanya merupakan hal yang mengada-ada karena Yanto mengaku tidak mencuri --ia hanya mengambil tiga buah apel yang jatuh diluar pagar perkebunan. Istri Yanto berjanji akan bekerja mencari uang agar sanggup menyewa pengacara untuk membebaskan Yanto dari segala tuduhan. Sementara itu, Harya, seorang koruptor yang dituduh mengkorupsikan uang rakyat sebanyak enam puluh setengah milyar, sedang berkoordinasi dengan dua pengacara handalnya, agar ia bisa segera bebas dan namanya pun kembali bersih. Benang merah dicerita ini terletak pada apel yang "dicuri" oleh Yanto dan apel yang dimakan oleh Harya sebagai buah favoritnya. Di babak kedua, diperlihatkan Yanto yang berbicara dengan Harya yang berada di sel yang sama dengannya. Yanto mengeluhkan keadaannya yang difitnah mencuri tiga kilogram apel. Tidak hanya itu, ia disiksa oleh sipir penjara apabila ia tidak memberikan 'setoran', berbeda dengan Harya, yang menceritakan bahwa dipenjara ia mendapat perlakuan yang istimewa. Harya yang tersentuh dengan cerita Yanto, berjanji akan menolong Yanto dengan mengeluarkannya dari penjara. Di babak selanjutnya, Yanto disidang dengan perkara pencurian apel. Yanto mempertanyakan keadilan hukum untuk orang kecil seperti dia. Yanto merasa bahwa keadilan hanyalah untuk orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan. Ia pun mengaku bahwa seorang temannya, seorang koruptor yang satu sel dengan dia sudah berjanji akan membebaskan dia. Jaksa penuntut umum kemudian memberitahukan bahwa tidak ada orang yang satu sel dengan Yanto. Terlebih lagi, terdakwa kasus korupsi ditempatkan di penjara Tipikor. Ditengah keributan yang dibuat oleh Yanto, muncullah sosok Harya, yang ternyata merupakan imajinasi Yanto. Sidang kemudian dibubarkan.





Ok that's about Malum. Gue pribadi langsung suka sama cerita ini waktu pertama kali dikasih tau sama astradanya. Mind fuck dan membuat beberapa orang menganga. Buktinya aja waktu pementasan, astradanya sempat dengar ada orang yang bilang "wah jahat banget Harya, kenapa si Yanto malah dibohongin," kemudian ada juga yang bilang "Haryanya udah mati ya?"

Rasanya puas begitu dengar komentar-komentar yang justru membuat adegan-adegan dan prediksi-prediksi baru tentang Malum ini.



OK. Jadi, Malum ini mendapatkan juara ke-2! YAY! Kita nggak mengharapkan juara 1-nya, sih, since we really had a little preparation dan setiap kali latihan, kita selalu sambil main. Besides, sutradara-nya juga sekaligus sedang mempersiapkan pementasan lain dimana dia merupakan salah satu pemeran didalamnya at that time. But then again we made it. Oh and again, display presentation kita juga menang! Like, seriously.


Display ini adalah hal yang paling absurd yang bisa menang di UI Art War kemarin. Nggak ada yang tau kalau ini akan dilombakan and we won it? See? Absurd, right?



I will still be having days off until February. Dua hari berturut-turut kemarin nonton sendirian dan merasakan asyiknya duduk sendirian di bioskop, di tengah-tengah, I mean, posisinya enak banget buat nonton. SO I watched Jack Reacher and The Hobbit. And I also have finished reading The Night Circus which was very great. Now looking forward to read Looking for Alaska by John Green tapi kok nggak ada dimana-mana, ya....


Happy holiday, folks!


(Courtesy poster Malum: http://twitter.com/theotherzoo; foto maket: http://twitter.com/aishaandari)



-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kalian bicara soal hukum. Hukum yang berdiri tegak diantara kita semua. Tapi dimana untuk orang seperti saya? Apa akan terus diinjak-injak oleh mereka yang punya uang banyak?! (Yanto, Malum, 2012)

Korupsi, money laundering, bahkan pelanggaran HAM sekalipun akan berlalu dengan sendirinya. Masyarakat kita sangat pemaaf selama tidak terkait dengan poligami.(Pengacara 2, Malum, 2012)

No comments: